Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Artikel · 26 Sep 2022 06:43 WIB ·

SALAM LINTAS AGAMA; SEJARAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM AGAMA-AGAMA  


SALAM LINTAS AGAMA;  SEJARAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM AGAMA-AGAMA    Perbesar

Oleh : Dr. H. Arifinsyah, M.Ag

Dosen Perbandingan Agama UIN Sumatera Utara Medan

 

Pertama sekali ucapan syukur Alhamdulillah dan terima kasih kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara, khususnya bidang/Komisi Fatwa yang telah mengamanahkan kepada kami untuk menyampaikan suatu tema yang cukup menarik perhatian umat beragama yaitu “Salam Lintas Agama”. Menarik, karena satu dasawarsa ini di Indonesia setiap pejabat memulai pidatonya terdahulu mengucapkan semua “salam khas” masing-masing agama yang dilayani di Indonesia. Namun, ucapan salam tersebut bisa juga menjadi pemicu konflik antarumat beragama, karena punya alasan tersendiri perspektif keyakinan yang dianutnya. Pertanyaan adalah bagaimana konsep agama-agama tentang ucapan salam, dan mengapa itu dilakukan ?.

Belakangan ini suatu hal cukup menjadi perhatian masyarakat, terutama umat beragama adalah mengenai “Salam lintas agama”. Salam Lintas Agama, Salam Pembuka Semua Agama atau Salam Semua Agama adalah sebuah ucapan salam khas dari enam agama yang diakui di Indonesia yang diucapkan secara bersamaan, yakni Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh (Islam), Salam sejahtera bagi kita semua (Katolik), Shalom (Kristen), Om Swastyastu Om Swastyastu “semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi  (Hindu), Namo Buddhaya Terpujilah sang Buddha (Buddha), dan Salam Kebajikan Wei De Dong Tian (惟德動天) “Hanya Kebajikanlah Yang Bisa Menggerakkan Tian/Tuhan (Konghucu).

 

  1. Agama Hindu “Hinduisme”

Agama Hindu (SanskertaSanātana Dharma सनातन धर्म “Kebenaran Abadi” , dan  Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah  agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia dengan jumlah umat sebanyak hampir 1,2 miliar jiwa setelah agama  Kristen  dan  Islam.

Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai  Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18)-sastra suci dari kaum  Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Veda (dibaca Weda) digenapi oleh para Brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda.

Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15 M, lebih tepatnya pada masa keruntuhan  Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa, Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis – Sidrap). Ketika mengucapkan salam mereka mengunakan kalimat : Om Swastyastu[1] “semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi

Sang Hyang Widhi[2] (disebut juga sebagai Acintya atau Sang Hyang Tunggal) adalah sebutan bagi Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu Dharma masyarakat Bali. Dalam konsep Hinduisme, Sang Hyang Widhi dikaitkan dengan konsep Brahman. Dalam bahasa Sanskerta, ‘Acintya’ memiliki arti ‘Dia yang tak terpikirkan,’ ‘Dia yang tak dapat dipahami,’ atau ‘Dia yang tak dapat dibayangkan. “Hyang” merupakan sebutan untuk keberadaan spiritual memiliki kekuatan supranatural, bagaikan matahari di dalam mimpi. Kedatangannya dalam hidup seseorang memberikan kesenangan tanpa jeda dalam waktu lama yang tak dapat dibedakan antara mimpi dan realita. Orang-orang Indonesia umumnya mengenal kata ini sebagai penyebutan untuk penyebab keindahan, penyebab semua ini ada (pencipta), penyebab dari semua yang dapat disaksikan, atau secara sederhana disebut Tuhan (Brahman). Brahman merupakan salah satu di antara berbagai nama Tuhan.[3] Sifat-sifat Brahman ditulis dalam kitab Bhagavad Gītā dan dijabarkan melalui perantara Sri Kresna.

Sang Hyang Widhi secara sederhana berarti dia yang memancarkan widhi atau penghapus ketidaktahuan. Dengan batasan media yang berupa cahaya, maka sang hyang widhi adalah sumber cahaya. Sumber cahaya ini berupa matahari atau sumber cahaya lain. Dengan demikian, dengan membatasi bentuk widhi berupa cahaya, sang hyang widhi adalah sumber cahaya.

 

  1. Agama Buddha “Budhisme”

Agama Buddha  lahir pada abad ke-6 SM di India dan didirikan oleh Siddharta Gautama. Ia adalah anak seorang raja yang bernama Suddhudana yang memerintah suku Syakia. Ibunya bernama Maya. Menurut para ahli, Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM dan wafat pada tahun 483 SM. Ia keluar dari istana dan melihat empat peristiwa; yaitu orang sakit, mengusung jenazah, bertemu kakek tua, dan bertemu dengan seorang pertapa. Lalu ia ikut bertapa di bawah pohon Ara Bodhi Gaya dan mendapat pencerahan dan ilmu kesempurnaan, yaitu kemudian disebut dengan Buddha. Kitab Suci adalah Tri Pitaka;  Sutta Pitaka; himpunan khutbah Siddharta Gautama. Vinaya Pitaka; peraturan tata hidup setiap biara. Abidhama Pitaka; himpunan yang mempunyai nilai tinggi (prosa kesadaran). Ajaran inti dalam agama Buddha adalahTriratna : Budham saranam gacchami; aku berlindung kepada budha. Dhammam saranam gacchami; aku berlindung kapada dharma. Sangham saranam gacchami; aku berlindung kepada sangha (biara/pendeta).

Ucapan di kalangan umat Buddha adalah Namo Buddhāya, merupakan kalimat pemujaan kepada Buddha. Kata ‘Namo’ berarti ‘terpujilah’ dan kata ‘Buddhāya’ berarti ‘kepada Buddha‘. Jadi, Namo Buddhāya berarti: ‘Terpujilah Buddha. Meski begitu, kalimat ini tidak terdengar asing bagi masyarakat Indonesia karena dianggap menjadi salam Buddhis. Biasanya sesama umat Buddha atau bahkan umat beragama lain akan bertukar sapa dengan mengucapkan namo buddhaya saat bertemu.

Dalam agama Buddha, kalimat namo buddhaya diucapkan sebelum mengawali kegiatan, seperti sebelum puja bakti, diskusi Dhamma, ceramah, rapat, hingga kegiatan keagamaan lainnya. Sayangnya, terkadang penggunaan kalimat namo buddhaya disalahartikan sebagai salam untuk menyapa orang lain. Kalimat salam agama Buddha ini merupakan kalimat pujian atau penghormatan kepada Buddha. Kata namo memiliki arti terpujilah dan buddhaya berarti kepada Buddha. Dengan kata lain, kalimat namo buddhaya berarti terpujilah Buddha.

Kalimat namo buddhaya ditemukan di literature Pali, seperti di Saddanitippakarana yang menjadi salah satu kitab tata bahasa Pali. Dalam kitab tersebut, ditemukan syair dengan bunyi sebagai berikut.

”Namo buddhāya buddhassa (Terpujilah Sang Buddha)

Namo dhammāya dhammino (Terpujilah Dhamma)

Namo saghāya saghassa (Terpujilah Sagha)

Namokārena sotthi me’’ti ca (Dengan pujian ini, keselamatan atau kesejahteraan datang padaku). ”

Dengan mengucapkan namo buddhaya, maka umat Budha sedang melakukan penghormatan kepada Buddha secara verbal atau lisan. Pujian ini tentu saja ditujukan kepada Sang Buddha. Meski penggunaan kalimat namo buddhaya sebelum mengawali kegiatan ibadah bukanlah hal yang salah. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kalimat ini bukan kalimat salam untuk menyapa hadirin, tetapi pujian kepada Sang Buddha.

 

  1. Agama Kristen

Kristen berasal dari kata Kristos; penolong atau juru selamat yaitu beriman kepada Yesus. Dalam Kristen ada dua aliran besar yaitu Katolik dan Protestan. Kata Katolik berasal dari kata sifat bahasa Yunani, καθολικός (katholikos), artinya “universal” Dalam konteks eklesiologi Kristen, kata Katolik memiliki sejarah yang kaya sekaligus beberapa makna. Bagi sebagian pihak, istilah “Gereja Katolik” bermakna Gereja yang berada dalam persekutuan penuh dengan  Uskup Roma, terdiri atas Ritus Latin dan 22 Gereja Katolik Timur; makna inilah yang umum dipahami di banyak negara. Bagi umat Protestan, “Gereja Katolik” atau yang sering diterjemahkan menjadi “Gereja Am” bermakna segenap orang yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dan sepanjang masa, tanpa memandang “denominasi“.  Sedangkan Protestan adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau demonisasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya. Kata protestan berarti pro-testanum yang berarti kembali ke injil (testanum). Kitab suci atau sumber-sumber hukumnya Al-Kitab atau Injil Al-Kitab.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Pengaruh kehidupan kristiani adalah membawa damai. “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan… (Matius 5:25). Tetapi Aku berkata; janganlah kamu melawan orang-orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa yang menapar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Matius 5:39). Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (matius 5:40-41).

Yesus secara nyata bergaul dan berkerabat, makan bersama dengan orang yang menurut agama justru dikucilkan dari umat Allah dan dari ibadah (Mrk. 2:15; Luk 7:34). Yesus berkerabat dengan orang berdosa, pemungut cukai dan pelacur, mereka yang tidak ambil pusing tentang hukum agama dan hukum Allah, dilakukan atas dasar prinsip kasih (Mat 11:19; Lukas 5:30; 15:2; 19:1-2). Hukum kasih tersebut ialah mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia (Mat. 22:37; Rum 13:10; Kor. 4; 13:4-7). Prinsip kasih yang dilakukan Yesus membentuk rasa empati  dalam diri orang-orang terhadap Dia. Dia mau bersama-sama dengan mereka dan menjadi terang untuk menciptakan suasana damai di tengah-tengah realitas keberagaman.

Dalam agama Kristen ucapan salamnya dalah Shalom aleichem (bahasa Ibrani), yang berarti “Damai kiranya menyertaimu”. Jawaban yang tepat adalah “Aleichem shalom“. Bentuk salam seperti ini lazim ditemukan di Timur Tengah. Versi bahasa Arabnya adalah assalamu alaikum. Salam ini dilakukan dalam bentuk jamak – sehingga digunakan untuk menyalami banyak orang – meskipun misalnya digunakan untuk satu orang saja. Shalom Aleichem juga lazim digunakan oleh pemeluk Kristen Orthodox Timur Tengah, khususnya komunitas di daerah Israel, Palestina, Suriah, Libanon, Yordania, Turki, Mesir, Maroko dan Russia, bahkan di seluruh dunia. DIgunakan sebagai ucapan salam ketika beribadah, memulai khotbah dan salam kepada rekan dan sesama.
Shalom dapat juga diterjemahkan dengan “Damai”: damai yang dirasakan secara pribadi, ketenangan dan keseimbangan mental yang mendalam, yang dirasakan sebagai hadiah bagi kita yang menghargai Allah.

Agama Kristen mengenal konsep Tritunggal, yang maksudnya Tuhan memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”) menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Alkitab menyebut Allah sebagai Bapa. Sedangkan Yesus sebagai Anak Allah, dan disebut sebagai Tuhan. Kedua istilah itu mempunyai pengertian berbeda dan tidak pernah dipertukarkan dan secara konsisten digemakan diseantero Alkitab Perjanjian Baru. Tidak ada satu pun ayat yang menyebut Yesus sebagai Allah.

Dalam Bible kitab Yohanes 3:16; Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yesus sendiri mengatakan bahwa, Ia adalah Tuhan di kitab Yohanes 10;30 “Aku dan Allah Bapa adalah satu.” Dan selanjutnya pasal 14; 6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Roh Allah bersama-sama dengan roh kita menyatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita , bahwa kita adalah anak-anak Allah. Tentang Trinitaas atau Tritunggal ini dibantah oleh Alqur’an ( QS.al-Maidah :72-73), (QS.an-Nisa’:171), dan (QS.112:3).

 

 

 

  1. Agama Konghucu “Konfusianisme”

Konfusianisme atau Kong Hu Cu (juga: Kong Fu Tze atau  Konfusius)  dalam bahasa Tionghoa, istilah aslinya adalah Rujiao(儒教) yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya seperti apa yang beliau sabdakan: “Aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut”. Meskipun orang kadang mengira bahwa Khonghucu adalah merupakan suatu pengajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan menjaga  etika manusia. Sebenarnya  kalau orang mau memahami secara benar dan utuh tentang Ru Jiao atau Agama Khonghucu, maka orang akan tahu bahwa dalam agama Khonghucu (Ru Jiao) juga terdapat Ritual yang harus dilakukan oleh para penganutnya. Agama Khonghucu juga mengajarkan tentang bagaimana hubungan antar sesama manusia atau disebut “Ren Dao” dan bagaimana kita melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah “Tian” atau “Shang Di”

Kitab sucinya ada 2 kelompok, Pertama: Wu Jing (五 經) (Kitab Suci yang Lima) yang terdiri atas Kitab Sanjak Suci 詩經 Shi Jing, Kitab Dokumen Sejarah 書經 Shu Jing, Kitab Wahyu Perubahan 易經 Yi Jing, Kitab Suci Kesusilaan 禮經 Li Jing, Kitab Chun-qiu 春秋經 Chunqiu Jing. Kedua; Si Shu (Kitab Yang Empat) yang terdiri atas: Kitab Ajaran Besar – 大學 Da Xue,  Kitab Tengah Sempurna – 中庸 Zhong Yong, Kitab Sabda Suci – 論語 Lun Yu, Kitab Mengzi – 孟子 Meng Zi. Selain itu masih ada satu kitab lagi: Xiao Jing (Kitab Bhakti).

Secara umum isi dari kitab suci tersebut adalah Delapan Kebajikan (Ba De) : (1). Xiao – Laku Bakti; yaitu berbakti kepada orangtua, leluhur, dan guru. (2).Ti – Rendah Hati; yaitu sikap kasih sayang antar saudara, yang lebih muda menghormati yang tua dan yang tua membimbing yang muda. (3). Zhong – Setia; yaitu kesetiaan terhadap atasan, teman, kerabat, dan negara. (4). Xin – Dapat Dipercaya. (5). Li – Susila; yaitu sopan santun dan bersusila. (6). Yi – Bijaksana; yaitu berpegang teguh pada kebenaran. (7). Lian – Suci Hati; yaitu sifat hidup yang sederhana, selalu menjaga kesucian, dan tidak menyeleweng/ menyimpang. (8). Chi – Tahu Malu; yaitu sikap mawas diri dan malu jika melanggar etika dan budi pekerti.

Ucapan salam umat Konghucu adalah Salam Kebajikan Wei De Dong Tian (惟德動天) “Hanya Kebajikanlah Yang Bisa Menggerakkan Tian/Tuhan (Konghucu). Dalam agama Khonghucu (Rujiao) sebutan Tuhan adalah 天 TIAN (baca, Ti’en) yang berarti Satu Yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Esa. Dalam kitab suci agama Khonghucu 五經 Wujing (Kitab Yang Lima) ada beberapa istilah/sehutan Tuhan seperti Huang Tian, Min Tian, Shang Di dsb. Nabi Kongzi menyebutnya dengan TIAN. Konsep ketuhanan dalam agama Khonghucu seperti tersurat dalam Kitab Zhong Yong Bab XV sifat Tuhan itu Maha Roh, dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun setiap wujud tiada yang tanpa Dia. Adapun kenyataan Tuhan itu tidak dapat diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan.

Konsep ketuhanan dalam Khonghucu bisa ditemukan dalam kitab Yi Jing (Kitab Perubahan). Dalam kitab ini, Tuhan digambarkan dengan istilah Qian yang dapat diartikan Tuhan sebagai subjek Yang Maha Ada, Maha Sempurna, Khalik Semesta Alam, Maha Positif dan Proaktif. Di dalam Kitab Zhong Yong (Tengah Sempurna) disebut dengan Gui Shen, yang mengandung arti Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan dalam buku ini digambarkan sebagai roh yang berkuasa atas segala sifat Yin dan Yang. Dalam kitab Li Ji (Kitab Kesusilaan), Tuhan sering juga diistilahkan dengan istilah Da Yi, yang artinya Satu Yang Maha Besar, sejajar dengan istilah yang digunakan pula di dalam Yi Jing dengan sebutan Tai Ji (Yang Maha Ada, Maha Puncak/Kutub), atau dapat juga digambarkan dengan sebuah “o” (lingkaran).(Nazarudin Umar)

Penggunaan istilah Tian sebagai Tuhan di dalam kitab Wu Jing mempunyai enam dimensi, yaitu: 1) Shang Tiang (Tain Yang Maha Tinggi), 2) Hao Tian (Tian Yang Maha Besar atau Yang Maha Meliputi), 3) Cang Tian (Tian Yang Maha Suci, Maha Luhur, Maha Tinggi), 4) Min Tian (Tian Yang Maha Welas Asih , Yang Maha Murah), 5) Huang Tian (Tian Yang Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Pencipta), 6) Shang Di (Tuhan Khalik Pencipta Semesta Alam), Yang Maha Tinggi atau Yang di Tempat Maha Tinggi. Meskipun ada enam tetapi tetap Dia Maha Esa. Ini mengingatkan kita kepada konsep keesaan agama lain seperti konsep Trimurti dalam agama Hindu, konsep Trinitas dalam agama Protestan dan Katolik.

 

Penutup

Penulis sengaja tidak membahas ucapan salam dalam perspektif Islam, karena ada narasumber secara khusus dan mendalam menjelaskannya. Jika kita cermati dan pahami secara substansial, maka ucapan salam dari masing-masing agama yang telah diuraikan diatas merupakan salam kehormatan dan doa yang dimohon kepada sang Khalik. Artinya jika ucapan itu mengandung doa, liturge atau harapan kepada Tuhannya masing-masing, maka hal itu merupakan ibadah yang berada pada tataran sacralitas dan doktrinitas yang tidak lazzim diibadahi secara bersama-sama atau seseorang mengucapkan salam semua agama sekaligus. Kita khawatir akan terjadi pengkaburan nilai-nilai sakral dalam agama, bukan berarti dengan mengucapkan semua salam agama-agama orang itu bertoleransi, justru singkritisme yang dilarang oleh semua agama. Justru toleransi itu adalah membiarkan orang lain mengamalkan keyakinannya dan tidak mengganggu ibadah keyakinan lain (QS. 109:6).

 

Disampaikan di Muzakarah MUI Sumut, Ahad 25 September 2022

 

[1] Om (atau aum) adalah suku kata suci dan keramat.

[2]Brahman (Dewanagari: ब्रह्मन्) adalah penguasa tertinggi dalam konsep ketuhanan Hindu. Brahman bersifat kekal, tidak berwujud, imanen, tak terbatas, tak berawal dan tak berakhir juga menguasai segala bentukruangwaktuenergi serta jagat raya dan segala isi yang ada di dalamnya.

[3]Brahma Sahasranama (seribu nama Brahma), Wisnu Sahasranama (seribu nama Wisnu), Siwa Sahasranama (seribu nama Siwa), dan sebagainya. Tiga nama besar Tuhan (Trimurti) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kata tersebut terdiri dari tiga fonem, [a], [u] dan [m], melambangkan Trimurti atau tiga jenjang kehidupan (kelahiran, kehidupan dan kematian).

Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Untuk Menjalankan Syariat Islam, Haruskah Menunggu Berdirinya Khilafah?

29 April 2023 - 06:34 WIB

TAFAHUM SU Berduka, Kehilangan Aktivis Terbaiknya

12 April 2023 - 21:32 WIB

Safari Ramadhan 1444 H, Upaya Memperkokoh Silaturrahim dan Menanamkan Akidah Umat

12 April 2023 - 09:21 WIB

Meriahkan Ramadhan 1444 H, MAN 1 Medan Gelar Kegiatan Up-Grading KKD

9 April 2023 - 10:04 WIB

Bocil Muslim Yatim Piatu Di daerah Minoritas

24 Maret 2023 - 12:39 WIB

Ketua MUI Percut Sei Tuan: Antusias Masyarakat ke Masjid Meningkat

24 Maret 2023 - 11:00 WIB

Trending di Keumatan