Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Artikel · 22 Sep 2022 02:18 WIB ·

MODUS TERORISASI DALAM KASUS USTADZ FARID OKBAH, USTADZ ANUNG AL HAMAT DAN USTADZ AHMAD ZAIN AN NAJAH


MODUS TERORISASI DALAM KASUS USTADZ FARID OKBAH, USTADZ ANUNG AL HAMAT DAN USTADZ AHMAD ZAIN AN NAJAH Perbesar

Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.

Advokat, Tim Advokasi Bela Ulama Bela Islam

Benang merah kasus yang menimpa Ustadz Farid Ahmad Okbah, Ustadz Ahmad Zain an Najah dan Ustadz Anung al Hammat (Para Ustadz) adalah ada ada kata kunci ‘Jama’ah Islamiyah’ atau ‘JI’. Organisasi inilah, yang dijadikan ‘kambing hitam’ untuk mengaitkan para ustadz dalam kasus Terorisme.

Cara mengaitkannya adalah dengan mengaktivasi pasal 7,  pasal 13c, pasal 12a dan pasal 15 UU Terorisme. Para Ustadz dituduh terlibat terorisme JI, menyembunyikan informasi soal JI dan menjadi atau merekrut anggota JI.

Sementara agar JI legitimate sebagai ‘Korporasi Terorisme’, maka JI distigmatisasi menjadi organisasi terorisme, dengan meminjam putusan pengadilan (dalam hal ini putusan pengadilan negeri Jakarta Selatan). Setelah itu, semua dan segala aktivitas dakwah para ustadz dikait-kaitkan dengan JI agar dapat diterorisasi.

Modus ini sebenarnya hanya ‘Copy Paste’ dari sejumlah kasus terorisme yang lain. Sebut saja pada kasus Munarman. Munarman dikaitkan dengan terorisme melalui ISIS dan kemudian Munarman dituduh menyembunyikan informasi terorisme setelah berinteraksi dalam sebuah acara yang  dianggap punya hubungan atau afiliasi dengan ISIS.

Makanya, peristiwa dakwah termasuk upaya memikirkan urusan umat, upaya berjuang menegakkan syariat Islam, sepanjang dikaitkan dengan JI menjadi aktivitas terorisme. Jadi modus selanjutnya adalah kriminalisasi sejumlah ajaran Islam dari syariat Islam, dakwah, jihad hingga Khilafah.

Contoh saja Ustadz Farid Okbah, posisinya menasehati orang agar berjuang konstitusional bisa melalui Ormas maupun Partai Politik. Kemudian beliau membentuk Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI).

Partai inilah, yang kemudian dituduh menjadi ‘bungker’ bagi anggota JI yang kemudian Ustadz Farid Okbah dianggap menyembunyikan informasi tentang terorisme. Nasehat Ustadz Farid Okbah agar memperjuangkan syariat Islam secara legal konstitusional kemudian dituduh terlibat dalam korporasi terorisme sebagai dewan penasehat.

Selanjutnya, perjuangan menegakkan syariat Islam dan Khilafah nubuwah distigma sebagai tindakan terorisme dengan narasi ‘syariat Islam dan Khilafah menurut pemahaman JI’ dan atas dasar itu, segala hal dan yang berkaitan dengan JI diterorisasi. Ini jelas sangat berbahaya. Ajaran Islam dihantam sebagai ajaran terorisme, dan aktivitas dakwah Islam akhirnya dituduh sebagai terorisme dan pengemban dakwah Islam distigma menjadi teroris.

Karena terorisme ini proyek, bukan mustahil akan dimunculkan ‘JI JI’ yang lain, untuk melegitimasi perburuan terorisme dengan melakukan sejumlah penangkapan. Korbannya, akan banyak Ustadz Farid Okbah Ustadz Farid Okbah lainnya yang diterorisasi.

Karena itu, penulis menghimbau umat Islam tidak boleh diam. Jika Ustadz Farid Okbah ini didiamkan dan dibiarkan sendiri dimangsa rezim dengan narasi terorisme, bukan mustahil akan banyak ulama dan ustadz lainnya yang akhirnya mendapat giliran menjadi korban karena mendakwahkan Islam. Karena, War On Terorism sejatinya adalah War On Islam.

Penting untuk diingat sabda Baginda Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi).”

(HR. Bukhari & Muslim).

Penulis mengajak, umat Islam dapat membersamai para ustadz, mendukung dan memberikan doa, memberikan pembelaan dalam kapasitasnya masing-masing, tidak menzalimi dan membiarkannya dimangsa oleh Densus 88. Sejatinya, kalau para ustadz ini dibiarkan sendirian, selain ada potensi terorisasi juga memangsa ulama dan ustadz lainnya, juga akan menumbuhkan sikap perpecahan ditengah umat Islam, hilang persatuan dan kekuatan umat hilang, dan pada akhirnya umat ini semuanya akan dimangsa oleh musuh-musuh Islam.

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bincang Bersama Ketua Umum Partai UMMAT: Perlunya Kesadaran Ummat Bahwa Kita Sedang Bertarung

21 Juni 2023 - 23:35 WIB

Untuk Menjalankan Syariat Islam, Haruskah Menunggu Berdirinya Khilafah?

29 April 2023 - 06:34 WIB

TAFAHUM SU Berduka, Kehilangan Aktivis Terbaiknya

12 April 2023 - 21:32 WIB

Safari Ramadhan 1444 H, Upaya Memperkokoh Silaturrahim dan Menanamkan Akidah Umat

12 April 2023 - 09:21 WIB

Meriahkan Ramadhan 1444 H, MAN 1 Medan Gelar Kegiatan Up-Grading KKD

9 April 2023 - 10:04 WIB

Narasi Politik Identitas, Indikasi Islamophobia Telah Merambah Bidang Politik

29 Maret 2023 - 21:37 WIB

Trending di Politik