Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Kajian Islam · 26 Mar 2023 16:54 WIB ·

Marsma TNI (Purn.) Dr. Bastari: Mempertahankan Kedaulatan Negara Lebih Mudah Dengan Membina 2/3 Rakyat Indonesia


Tentara yang tergabung dalam BKR (lalu TNI) telah bersumpah untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar 1945, yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945 Perbesar

Tentara yang tergabung dalam BKR (lalu TNI) telah bersumpah untuk setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar 1945, yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945

Oleh : Tim Aktivis Dakwah Al-Misbah

MisbahNEWS, Medan – Kemerdekaan negara Kesatuan Republik Indonesia adalah hasil usaha bersama (gotong royong) antara laskar bersenjata (yang kemudian menjadi Tentara Nasional Indonesia), didukung sepenuhnya oleh ulama dan umat Islam. Pendapat ini mengemuka dalam suatu acara silaturahmi dan diskusi terbatas yang berlangsung di POLY Café Tembung, Sabtu (25/03/2023) lalu.

Hadir dalam acara tersebut, Marsekal Pertama TNI (Purn.) Dr. Drs. Bastari R, SH., M.Pd., M.Sc., M.Si.(Han). Beliau adalah seorang Purnawirawan TNI-AU kelahiran Tanjung Karang 10 November 1964, dengan jabatan terakhir sebagai kepala dinas pembinaan mental dan ideologi di Besar (Mabes) TNI AU. Saat ini, beliau aktif sebagai advocate dalam sebuah Firma Hukum di Bogor, Jawa Barat.

Diskusi dimotori Dr. Masri Sitanggang, tokoh Islam sekaligus jurnalis senior, dan dihadiri oleh beberapa aktivis Komunitas Gerakan Pemikiran Islam POLITIKA ISLAM seperti Amat Usman, Ir Paidi, Sahrozi, Ramadi dan lainnya.

‘Haus Ilmu’, mungkin itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan sosok seorang Marsekal Pertama TNI (Purn) Bastari. Perwira tinggi di TNI AU (Angkatan Udara) itu tak pernah berhenti mengenyam pendidikan di tengah kariernya yang gemilang. Beliau adalah seorang Purnawirawan TNI-AU alumni Sepawamil ABRI 1989 yang berasal dari kecabangan Kopasgat. Beliau juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Prodi Strategi Perang Semesta Fakultas Strahan Unhan.

Dalam diskusi tersebut, Marsma TNI (Purn.) Dr. Drs. Bastari menceritakan, perang Asia Pasifik (perang dunia kedua) akhirnya dimenangkan oleh tentara sekutu. Komponen (negara) penjajah kita saat itu adalah bagian daripada tentara sekutu, yang sebelumnya kalah perang dengan Jepang. Setelah memenangkan perang, mereka berusaha akan kembali lagi untuk masuk ke Indonesia dengan persiapan lengkap.

Bagaimana ketika itu orang Indonesia (belum bangsa Indonesia) akan melawan pemenang perang, dengan taktik seadanya dan perlengkapan perang yang cuma rampasan rampasan sporadis dari tentara Jepang? Menurutnya, ada satu yang dimiliki oleh Indonesia, yakni adanya semangat yang dipompakan oleh ulama. Sebagai contoh, ketika peristiwa Surabaya 10 Nopember, itu didahului oleh pernyataan resolusi jihad dari Kiai Haji Hasyim Ashari. Itulah sebetulnya kekuatan Indonesia.

Motivasi dan dorongan spiritual dari ulama kepada laskar-laskar kita (yang kemudian membentuk menjadi Tentara Nasional Indonesia) itulah yang memberikan energi untuk tetap berperang. Yang kita cari saat itu bukan hanya mempertahankan Indonesia yang ingin kembali dicengkram oleh tentara sekutu, dalam hal ini Belanda, tetapi ridho illahi-lah yang akan dituju. Oleh karena itu, orang Islam dalam pemikirannya, perang bukan untuk mencari kemenangan tetapi untuk mencapai (meraih) ridho ilahi.

Dr. Masri Sitanggang, penggagas Komunitas Gerakan Pemikiran Islam POLITIKA ISLAM,  dalam kesempatan itu mempertanyakan apakah TNI saat ini sekarang masih punya pandangan seperti itu? Katakanlah, mulai berdirinya atau munculnya TNI yang dipelopori para ulama dan para aktivis Islam, masih adakah jiwa semangat Sudirman di dalam TNI sekarang?

Menjawab pertanyaan tersebut, lebih jauh Marsma TNI (Purn.) Dr. Drs. Bastari menceritakan pengalamannya selama bertugas di institusi TNI. Sejak dua setengah tahun yang lalu dia ditunjuk oleh panglima saat itu (Marsekal TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P.) untuk melaksanakan tugas baru sebagai pembina mental dan ideologi di TNI Angkatan Udara, dalam lingkup dinas pembinaan mental dan ideologi. Dulunya, di seluruh matra TNI sama semua, hanya dikenal dinas pendidikan mental saja.

Tugas dasarnya ada tiga bidang. Pertama,  bidang pembinaan mental rohani, dalam hal ini membina umat beragama khususnya yang ada di dalam lingkup TNI. Kedua, pembinaan di bidang tradisi dan kejuangan tentara/prajurit. Ketiga, pembinaan ideologi, dalam hal ini adalah Pancasila, sebagai ideologi nasional bangsa maupun tentara.

Pembinaan mental rohani itu yang sudah ada di dalam penugasan disbintal ideologi TNI Angkatan Udara. Dia menjelaskan bahwa seorang prajurit itu pada dasarnya adalah kombatan, artinya komponen utama pertahanan tentara, apapun kecabangannya, baik dia dokter, hukum maupun teknik penerbang, itu semuanya adalah kombat. Jadi ketika akan bertempur, tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan fisik dan persenjataan saja, tapi juga mental perjuangan yang tinggi, yang didasari oleh kecerdasan spiritual bahwa ini adalah tugas suci yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Tanpa itu, kita akan kalah sebelum berperang. Dalam melaksanakan tugas suci ini, berhasil itu bukan tujuan tapi ridho Ilahi itulah yang akan diraih. Kalau dalam konsep Islam, jihad namanya.

Dr. Masri Sitanggang memberikan pernyataan kritisnya. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kadang-kadang terjadi benturan di dalam masyarakat, baik berupa benturan peradaban (clash of civilization) maupun benturan ideologi (clash of ideologies). Menurutnya, khusus soal ideologi, benturan bisa terjadi antar sesama kelompok dalam masyarakat, antara TNI dengan sipil, bahkan antara TNI dengan Umat Islam (ulama).

Dr. Masri menanyakan, bagaimana pendapat Marsma TNI (Purn.) Dr. Drs. Bastari sebagai seorang yang pernah aktif dalam institusi TNI terhadap situasi ini?

Dalam hal ini, Marsma TNI (Purn.) Dr. Drs. Bastari menjelaskan, ideologi adalah suatu gagasan di atas dasar apa bangsa Indonesia itu untuk bernegara. Menjelang kemerdekaan, para founding fathers (tepatnya, founding parents) itu bermusyawarah dan merumuskan apa yang akan menjadi dasar negara kita (falsafah hidup bangsa).

Ideologi di dalam konteks bangsa Indonesia, khususnya tentara, sudah disepakati pada 18 Agustus 1945. Tentara itu memperkuat posisi ideologi tersebut, dengan lahirnya apa yang disebut dengan Sumpah Prajurit November 1945. Jadi, ketika negara diproklamirkan, tentara yang tergabung dalam BKR ( selanjutnya TKR dan TNI) kemudian bersumpah untuk setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang Dasar 1945.

Lebih jauh, Dr. Bastari menjelaskan tentang menjaga stabilitas negara yang agak terganggu akhir-akhir ini. Ada sebuah fakta menarik, yakni  bahwa 2/3 penduduk negeri ini adalah umat Islam (sekitar 87,6%). Nah, ini memberi makna bahwa secara teoritis stabilitas keamanan dalam negeri akan terbentuk jika pemerintah intensif membina 2/3 penduduk tersebut, tentu saja bukan bermaksud mengabaikan yang lainnya. Negara akan lebih jauh stabil ketika penyelenggara negara bisa mempersatukan umat yang kuantitasnya 2/3 ini. Kalau ini bisa dikelola baik, dari aspek pertahanan negara akan memberi pengaruh jauh lebih besar.

Secara lebih spesifik, kalau aparat negara membina dan bekerja sama dengan umat yang 2/3 besarnya dari rakyat Indonesia ini, maka kemampuannya untuk mempertahankan kedaulatan negara, keamanan dan ketertiban masyarakat bisa tercapai dengan relatif lebih mudah. Untuk menjabarkan lebih luas, tentu membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Pada penghujung diskusi, Dr. Bastari mengungkapkan, untuk lebih menjembatani silaturahmi dan meningkatkan kerjasama antara purnawirawan TNI dengan ulama dan ormas yang ada, telah dibentuk organisasi GN AURA (Gerakan Nasional Angkata Ulama Rakyat). Lebih jauh tentang GN AURA ini dapat disaksikan pada Channel Youtube Sisi Pandang Masri Sitanggang.[] (Bas/iii/2023).

 

Artikel ini telah dibaca 234 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Peta Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat

4 Februari 2023 - 10:40 WIB

H. Hidayatullah: “Sejatinya Semua Kita Adalah Da’i”.

6 November 2022 - 19:04 WIB

Prilaku Buruk Manusia Mengundang Bencana

5 November 2022 - 17:38 WIB

Tahun-tahun Penuh Tipu Daya dan Kebohongan.

21 Oktober 2022 - 15:20 WIB

Telkom Peduli Digitalisasi Pendidikan , CDC Regional I Sumatera serahkan Perangkat Komputer ke Pondok Pesantren PERSIS 343 Hamparan Perak Deli Serdang.

21 Oktober 2022 - 11:48 WIB

Trending di Kajian Islam