Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Artikel · 26 Sep 2022 13:34 WIB ·

Konservasi Sebagai Konsekuensi Logis Islam Sebagai Rahmatan lil’alamiin


Konservasi Sebagai Konsekuensi Logis Islam Sebagai Rahmatan lil’alamiin Perbesar

Disusun Oleh : Rizka Nabilah

Perkembangan  saat ini, perspektif tentang konservasi sangat beragam, beberapa perspektif mengarah pada tujuan dan praktik dalam menemukan definisi yang dapat diterima oleh semua orang. Definisi yang sangat luas tentang konservasi yang banyak muncul yaitu membangun, meningkatkan, dan memelihara hubungan baik dengan alam. Definisi ini mengarah pada tindakan aktif manusia sehingga definisi konservasi yang terbangun adalah menciptakan hubungan baru dengan alam. Gerakan konservasi kontemporer sangat beragam, banyak definisi tentang konservasi keanekaragaman hayati. Konservasi keanekaragaman ini memiliki dua implikasi, yaitu yang pertama pandangan manusia yang menantang argumen tentang etika konservasi yang terpadu. Pandangan yang kedua, yaitu manusia yang menerima semua nilai alam baik yang intrinsik dan instrumental. Dalam hal ini, manusia saat ini banyak mengeluarkan energi untuk perdebatan tentang bentuk konservasi.

Sebetulnya, di dalam Islam telah diajarkan, bahwa terdapat hubungan antara manusia dengan alam semesta yang lebih jelas. Nilai positif manusia dengan menciptakan hubungan baik dengan alam. Penjelasan ini terdapat pada Ayat Al-Furqan ayat 48-49. Manusia perlu senantiasa bersyukur dengan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Allah memberikan sumber daya alam yang sangat luar biasa penuh dengan manfaat dan makna.

“Dialah (Allah) yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, agar kami member minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak”. ( Al-Furqan : 48-49).

Pada ayat tersebut Allah SWT memberikan gambaran bahwa terdapat aliran energi yang saling berpengaruh antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Sehingga, semua daya untuk melaksanakan konservasi terdapat pada kewajiban manusia. Cara manusia dalam memandang tentang dunia sekitar, dapat mengubah dunia. Menguatkan perspektif Islam ke dalam praktik konservasi merupakan hal yang dapat mengoptimalkan peran manusia. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai alam, humanis, dinamis, kontekstual dengan kesesuaian implementasinya. Selain itu agama Islam merupakan agama Allah SWT yang sempurna untuk menjadi pedoman hidup manusia. Rahmatan lil’alamin, yaitu sebagaimana fir­man Allah dalam Surat al-Anbiya’ ayat 107: ”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.  Selain itu, ditegaskan kembali oleh ayat Al-Quran melalui surat Al-Baqarah ayat 30, sebagai berikut:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al Baqarah: 30).

Pengetahuan ilmiah tentang implementasi Islam sebagai Agama rahmatanlil’alamiin pada ruang lingkup konservasi alam. Perspektif Islam tentang alam, menjadi dasar ide untuk mengelola alam ini. Hal ini, sangat penting sebagai upaya konservasi sumber daya alam saat ini yang semakin terkikis. Signifikansi ilmiah di dalam Al-Quran yang digabungkan antara psikologis manusia dengan pengelolaan sumber daya alam. Fungsional spesies sangat penting bersama dengan makna historis dan spiritual manusia terhadap manusia dengan organisme lain secara luas.

Keadaan umat Islam saat ini perlu diperbaiki dari perspektif berpikir, sehingga dalam konteks konservasi akan terimpelentasikan dengan baik. Hal tersebut menjadi salah satu yang bagian yang mebuat Agama Islam kurang dalam nilai konservasi yang sebagaiman mestinya. Penguatan pada sektor sumber daya manusia muslim, perlu menjadi sorotan dalam memahami ajaran agama Islam. Dengan demikian, diharapkan nilai Islam menjadi preferensi dalam melaksanakan konservasi karena merupakan bagian dari melaksanakan perintah agama.

 

 

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kenapa PBNU/NU Dianggap Pro Rezim atau NU Plat Merah?

3 Maret 2023 - 12:45 WIB

PBNU atau NU terlihat absen dalam sejumlah Isu penting yang berkaitan dengan hajat dan kemaslahatan umat.

Sebira versus Siberia: Catatan Untuk Anies Baswedan

23 Februari 2023 - 14:17 WIB

Menggugat Arogansi Adaro, Perusahaan Tambang Batubara Oligarkis!

13 Februari 2023 - 06:51 WIB

Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

2 Februari 2023 - 07:00 WIB

Tujuh Tantangan Besar Indonesia 2023: Ketimpangan Sosial dan Kemiskinan

23 Desember 2022 - 22:00 WIB

Tujuh Tantangan Besar Indonesia 2023: Demokrasi Harus Di Selamatkan

21 Desember 2022 - 16:54 WIB

Trending di Opini