Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Lingkungan Hidup · 27 Okt 2022 16:10 WIB ·

Kepala BPBD Sumut Buka Rakor dan Konsolidasi Peningkatan Kemitraan Penanggulangan Bencana.


Abdul Aziz bersama Kepala BPBD Sumut,  Kalaksa BPBD Kota Medan. Perbesar

Abdul Aziz bersama Kepala BPBD Sumut, Kalaksa BPBD Kota Medan.

 

Deli Serdang-misbahnews.com. Apresiasi kepada seluruh organisasi, institusi, lembaga pemerintah dan non pemerintah, demikian disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatera Utara, Ir. Abdul Haris Lubis, M.Si dalam Pembukaan Peningkatan Kemitraan Dalam Penanggulangan Bencana di Wing Hotel Kuala Namu Kabupaten Deli Serdang Kamis (27/102022).

Indonesia termasuk Provinsi Sumatera Utara berada dalam jalur Ring of Fire, perlu kita ketahui bahwa Sumatera Utara dalam Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2021 menduduki urutan ke – 16 Nasional dengan nilai indeks 143,83 dan berada pada kategori resiko sedang. Abdul Haris menyampaikan bahwa sebanyak 13 Kabupaten/kota di Sumut masih berada dalam kategori resiko tinggi yaitu, Gunungsitoli, Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, Sibolga , Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas, Asahan, LabuhanBatu, dan Labuhanbatu Utara,”jelas Haris.

Untuk menekan resiko kerugian moril dan materil akibat bencana harus dilakukan secara bersama-sama baik pemerintah, non pemerintah termasuk seluruh elemen masyarakat sebagaimana konsep Pentahelix ( pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media usaha).

Gubernur Sumatera Utara melalui Keputusan No. 188.44/533/KPTS/2021, tanggal 13 September 2021 tentang Tim Terpadu Penanganan Bencana Daerah Provinsi Sumut. Dalam penyampaiannya wilayah penanggulangan bencana dibagi menjadi 8 (Delapan) zonasi, Zona 1 berpusat di kota Medan.

Zona 2 berpusat di Deli Serdang, Zona 3 Kabupaten Labuhanbatu Utara, Zona 4 Kabupaten Padanglawas Utara, Zona 5 Kab. Mandailing Natal, Zona 6 kabupaten Taput, Zona 7 kab. Dairi, dan Zona. 8 berpusat di Gunung Sitoli.
Penetapan zona ini bertujuan untuk percepatan pertolongan korban bencana pada masa penyelamatan atau golden time, “tegas Haris. Lanjut Abdul Haris tujuan Rakor dan Konsolidasi ini bertujuan terbangunnya komitmen, kesepakatan yang responsif, terpadu dan terintegrasi terkoordinasi kerjasama yang baik dengan stakeholder.

Dalam diskusi yang hangat dimulai oleh Kalaksa Kota Medan, M. Husni menyarankan ada sosialiasi yang terus menerus di gaungkan ke seluruh kabupaten kota. Tidak kalah pentingnya sertifikasi bagi pelaku aparat kebencanaan dan perlunya pemahaman yang sama bagi semua pentahelix. Dan dapat mengimplementasikan UU serta kebijakan mitigasi Kebencanaan sangat perlu sekali, termasuk kepada Pimpinan dan Kepala Daerah.

Bonggas Pasaribu Kalaksa Tapanuli Utara senada dengan M. Husni perlu memaksimalkan zonasi, pengalaman gempabumi taput itu menjadi pelajaran kita semua. Data dari BMKG jumlah gempa susulan Tarutung setelah gempa pertama 2 Oktober 2022 hingga hari ini tercatat 172 kejadian dan 25 kali dirasakan masyarakat,” ujar Bonggas.

Sebelumnya Ketua Panitia Pelaksana Chairul menyampaikan bahwa sebanyak 100 orang peserta yang terdiri dari:33 orang Utusan BPBD kabupaten kota 56 Relawan tanggap bencana, dan selebihnya Dunia Usaha, Akademisi, wartawan Peduli Bencana (Wapena). Dari Relawan Indonesia Sumatera Utara hadir Abdul Aziz selaku pembina.
Pemateri kedua Sylvia R. A Lubis dengan materi, Mekanisme Kerjasama Pemerintah Daerah
Pemateri ketiga, disampaikan oleh Kepala Biro Perekonomian Setda Provsu, Dr. Naslindo Sirait menyampaikan materi Tata Cara Penggunaan Dana Corporate Social Responbility (CSR) Mendukung Penanggulangan Bencana di Sumatera Utara.

Bencana adalah peristiwa yang bisa mengancam /mengganggu kehidupan masyarakat baik yang disebabkan bencana alam / non bencana alam yang mengakibatkan korban kerusakan dan kerugian,”kata Naslindo Sirait. Pemateri terakhir tentang Kolaborasi dan Integritas dalam Mewujudkan Ketangguhan Menghadapi Bencana di Sumatera Utara oleh, Dr. Benny Benyamin Nasution, Kepala Pusat Kajian Bencana Politeknik Negeri Medan.
Ketangguhan (resilliensy) dalam menghadapi bencana dapat dicapai jika seluruh elemen bangsa berkolaborasi dan di ikut sertakan (inclusiveness) dalam proses penanganannya satu bencana dengan bencana saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain, contohnya banjir dan longsor, kebakaran dengan endemik sehingga integritas menjadi terminology kunci dalam pengurangan resiko bencana (Disaster Risk Reduction),” jelas Dr. Benny.

  • Writer: Abdul Aziz
  • Editor: Tauhid
Artikel ini telah dibaca 288 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

“Dengan Menggali Sejarah Kita Selamatkan Sumber Mata Air”

21 Oktober 2022 - 11:32 WIB

Trending di Lingkungan Hidup