Menu

Mode Gelap
Tempuh Jalur Hukum, Polda Diminta Tangkap Aktor Demo Rumah Tahfiz Siti Hajar Anies Unggul Telak di Polling Capres Tokoh NU, Nadirsyah Hosen Dr. H. Jeje Zaenuddin Pimpin PERSIS Masa Jihad Tahun 2022 – 2027. Ini Harapan PW Persis Sumut Begini Solusi Kelola BBM dan Listrik dari Ketua Pemuda Persis Kota Medan Mulia: Perda No. 5/2015 Jadi Proteksi Bagi Pemkot Medan Bantu Warga Tak Mampu

Opini · 16 Nov 2022 13:57 WIB ·

E-Commerce Ala Nabi Muhammad: Sebuah Tinjauan Solusi


E-Commerce Ala Nabi Muhammad: Sebuah Tinjauan Solusi Perbesar

Oleh: Rasyid Rahmat, Kementerian Koperasi dan UKM RI

Pendahuluan

Pandemi Covid-19 mengubah gaya hidup masyarakat. Perubahan tersebut memaksa untuk memanfaatkan internet secara maksimal dan menjadikan manusia ketergantungan teknologi informasi, termasuk dalam sektor perdagangan. Meningkatnya permintaan barang melalui online dan layanan antarbarang, memaksa para pedagang yang terdampak pandemi mengubah model usaha, dan beralih dari transaksi secara langsung bertatap muka (face to face), menjadi transaksi jual beli secara virtual atau online menggunakan layanan internet. 

Transaksi jual beli atau perdagangan melalui layanan internet disebut e-commerce. Di Indonesia sendiri, fenomena transaksi dengan menggunakan fasilitas internet e-commerce ini sudah dikenal sejak tahun 1996 dengan munculnya situs http:// www.sanur.com sebagai toko buku online pertama. Walaupun belum terlalu populer, pada tahun 1996 mulai bermunculan berbagai situs yang melakukan e-commerce. Sepanjang tahun 1997–1998 eksistensi e-commerce di Indonesia sedikit menurun disebabkan karena krisis ekonomi, namun sejak tahun 1999 hingga saat ini transaksi e-commerce kembali menjadi fenomena yang menarik perhatian, meski tetap terbatas pada minoritas masyarakat Indonesia yang mengenal teknologi. Dalam transaksi e-commerce sekurang-kurangnya ada empat unsur yang diperlukan diantaranya online store atau marketplace, penjual dan pembeli, metode pembayaran, dan layanan antarbarang atau jasa pengiriman.

E-commerce dari platform digital mulai menjamur di Indonesia, diantaranya; shopee, bukalapak, olx, tokopedia, lazada, zalora, gojek dan lain sebagainya. Aplikasi jual beli tersebut ramai digunakan, khususnya oleh pelaku usaha mikro di sektor perdagangan atau pedagang kecil, yang mayoritas dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga. Kelemahan model usaha sistem online atau virtual, banyak dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk berbuat kecurangan (fraud), seperti, penipuan dimana barang yang dijual tidak sesuai dengan foto dan deskripsi, proses return barang yang berbelit-belit, dan kecurangan lainnya, sehingga menimbulkan kerugian bagi konsumen atau pembeli. 

Manajemen keuangan menjadi salah satu penentu keberhasilan perdagangan. Kurangnya pemahaman soal manajemen keuangan dalam hal promosi barang, juga menyebabkan kerugian bagi pelaku usaha atau pedagang kecil tersebut. Misalnya dengan membakar uang untuk memberikan diskon, ketidaktepatan pengelolaan biaya biaya operasional, dan perilaku lainnya. 

Perbuatan dosa riba melalui pinjaman online pun marak di masa krisis pasca pandemi. Mereka menawarkan modal usaha dengan bunga rendah. Tidak sedikit juga pedagang kecil yang tergiur dan ikut meminjam uang untuk merintis usahanya. Dengan kurangnya pemahaman manajemen keuangan yang mereka miliki, membuat pelaku usaha tersebut terlilit hutang dan kemudian usahanya gulung tikar.

Menurut Direktur Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Kementerian Perdagangan, ada beberapa tantangan yang dihadapi e-commerce:

  1. Barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan yang diinformasikan
  2. Barang dan/atau jasa yang dibeli diterima konsumen dalam kondisi tidak baik
  3. Barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan yang dijanjikan/ digaransikan
  4. Barang dan/atau jasa diterima tidak sesuai dengan waktu yang diperjanjikan
  5. Barang dan/atau jasa tidak diterima oleh Konsumen sama sekali
  6. Syarat dan Ketentuan memuat klausula baku yang dilarang dalam UU Perlindungan Konsumen
  7. Proses pengembalian dana Konsumen dari pembatalan transaksi
  8. Ganti rugi atas Barang dan/atau jasa yang dibeli diterima konsumen dalam kondisi tidak baik
  9. Barang yang dijual tidak memenuhi ketentuan SNI, Label dalam Bahasa Indonesia, dan Manual Kartu Garansi
  10. Layanan pengaduan konsumen sulit dihubungi /tidak tersedia

Dari uraian permasalahan diatas, maka rumusan masalah tulisan ini adalah bagaimana implementasi konsep berdagang Nabi Muhammad dalam e-commerce. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam menjawab persoalan e-commerce yang harus diatasi.

Landasan Teoritis

Menurut Kalalota dan Whinston, e-commerce adalah sebuah metodologi bisnis modern yang berupaya memenuhi kebutuhan organisasi-organisasi, para pedagang dan konsumer untuk mengurangi biaya (cost), meningkatkan kualitas barang dan jasa serta meningkatkan kecepatan jasa layanan pengantaran barang. 

Jual beli via internet ialah jual beli yang terjadi di media elektronik, yang mana transaksi jual beli tidak mengharuskan penjual dan pembeli bertemu secara langsung atau saling menatap muka secara langsung, dengan menentukan ciri-ciri, jenis barang, sedangkan untuk harga nya dibayar terlebih dahulu baru diserahkan barangnya. Jual beli harus memenuhi prinsip keadilan, suka sama suka, bersikap benar, amanah, dan jujur, serta tidak mubazir atau boros. 

Pembahasan 

Jual beli merupakan bagian dari muamalah, sebagai sarana saling membantu antar sesama untuk menjaga habluminannas, hubungan baik antara manusia. Berdagang adalah cara memperoleh kekayaan yang halal. Dasar hukum perdagangan ada dalam surat Al Baqarah ayat 275, 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…” 

yang artinya … Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …” (QS Al Baqarah: 275). 

Buya Hamka dalam penafsirannya terhadap surat Al Baqarah ayat 275 tersebut, beliau menyampaikan, Islam menanamkan kasih sayang di antara yang kaya dengan yang miskin, dengan menyuburkan rasa sedekah dan pengorbanan, sedangkan jahiliyah ialah memberi kesempatan bagi si kaya menghisap darah si melarat untuk kepentingan diri sendiri. Yang terutama sekali ialah riba. Para pendosa riba menganggap riba adalah sama dengan jual beli, mereka berkata: “Tidak lain perdagangan itu hanyalah seperti riba juga”.

Artinya karena dia hendak membela pendiriannya, dia mengatakan bahwa pekerjaan orang berniaga itupun serupa juga dengan pekerjaannya makan riba, yaitu sama-sama mencari keuntungan atau sama-sama cari makan. Keadaannya jauh berbeda. Berdagang ialah saudagar menyediakan barang, kadang-kadang didatangkannya dari tempat lain, si pembeli ada uang pembeli barang itu. Harganya sepuluh rupiah, dijualnya sebelas rupiah. Yang menjual mendapat untung yang membeli pun mendapat untung pula. Karena yang diperlukannya telah didapatnya. Keduanya sama-sama dilepaskan keperluannya. Itu sebabnya dia dihalalkan Tuhan.

Bagaimana dia akan diserupakan dengan cari keuntungan secara riba? Padahal dengan riba yang berhutang dianiaya, dihisap kekayaannya, dan yang berpiutang hidup senang-senang, goyang kaki dari hasil ternak uang?

Nabi Muhammad SAW. sebelum kenabian berprofesi sebagai pedagang. Beliau sejak usia belia tepatnya sekitar usia 12 tahun, telah pergi bersama pamannya, Abu Thalib, membawa barang dagangan dari Mekah ke negeri Syam. Kegiatan masuk-keluar pasar hampir tidak pernah berhenti sepanjang hidup beliau. Perdagangan sebagai medium dakwah menyebarkan Islam. Melalui perdagangan juga sebagai pintu masuk agama Islam ke Kepulauan Melayu-Indonesia. Kebanyakan sarjana Barat memegang teori bahwa para penyebar pertama Islam di Kepulauan Melayu adalah para pedagang Muslim yang menyebarkan Islam sembari melakukan perdagangan di wilayah ini. 

Firman Allah dalam surat An Nur ayat 37, bahwa “…laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi berguncang…” (QS An-Nur: 37).

Ayat tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghargaan dan perintah bagi kita umat Islam untuk memajukan perdagangan sebagai aktivitas ekonomi yang bergerak pada sektor riil. Sektor perdagangan tersebut, dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana ditulis Imam al-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shagir jilid 1 hlm. 88: “Sesungguhnya sebaik baik usaha adalah usaha pedagang, yaitu pedagang yang apabila mereka berbicara tidak berdusta, diberi kepercayaan tidak berkhianat, berjanji tidak ingkar, membeli tidak mencela, menjual tidak memuji, bila berutang tidak lalai, dan bila berpiutang tidak menyulitkan” (HR Baihaqi).

Hukum Islam satu-satunya hukum yang tidak bersifat temporal sehingga relevan sepanjang masa dan mampu menyelesaikan segala permasalahan, karena hukum Islam itu shalihun fii kulli zaman wa makan, hukum Islam relevan diterapkan di setiap masa dan di setiap negara. Namun perlu dituangkan dalam peraturan perundang-undangan dan peraturan kebijakan yang lintas batas dan antar negara, sebagaimana jaringan internet bekerja, begitu pula jaringan hukum bekerja, untuk memberikan kepastian hukum bagi penjual dan pembeli.

Dalam Hukum Dagang Islam, diatur mengenai syarat dan rukun yang harus dipenuhi oleh penjual dan pembeli. Pendapat ulama Hanafiah yang terdapat dalam bukunya Abdul Rahman Ghozali, rukun jual beli ialah ijab dan qabul yang menunjukan sikap saling tukar, atau saling memberi.  Pendapat ulama Hanafiah rukun jual beli ada dua, yakni ijab dan qabul. Sedangkan berdasarkan pendapat jumhur ulama, rukun jual beli harus mencakup empat macam, antara lain: orang yang berakad atau Akidain (penjual dan pembeli), ada barang yang dibeli, sighat lafad ijab dan qabul, dan ada nilai tukar pengganti barang”.

Setelah rukun ada syarat yang harus dipenuhi, syarat jual beli harus sesuai rukun jual beli. Sebagaimana berdasarkan pendapat jumhur ulama, sebagai berikut:

  1. syarat orang yang sedang berakad antara lain berakal maksudnya orang gila atau orang yang belum mumayiz tidak sah dan yang mengerjakan akad tersebut harus orang yang berbeda.
  2. syarat yang berhubungan dengan ijab dan qabul, semua ulama sepakat unsur utama dalam jual beli yakni kerelaan kedua belah pihak. kerelaan kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab dan qabul. para ulama fiqih berpendapat syarat-syarat dalam ijab qabul di antaranya: orang yang mengucapkan telah balig dan berakal, qabul yang dilaksanakan harus sesuai ijab, ijab dan qabul harus dilaksanakan dalam satu majlis.
  3. syarat barang yang diperjual belikan (ma’qud alaih), antara lain: barang ada atau tidak ada di tempat tapi penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang tersebut, dapat berfungsi atau difungsikan. barang sudah ada pemiliknya, boleh diserahkan pada saat akad berlangsung atau waktu yang ditentukan ketika transaksi berlangsung.
  4. syarat nilai tukar (harga barang), tergolong unsur yang mendasar dalam jual beli ialah nilai tukar, dan kebanyakan manusia memakai uang. 

Melakukan manajemen dan tata kelola bisnis sebaiknya sesuai prinsip-prinsip Islam, karena kegiatan tersebut sebagai bagian dari bukti tanggung jawab kita dalam menjalankan amanah. Setiap aktivitas dan keputusan-keputusan yang kita ambil sebagai pelaku usaha, hendaknya berdasarkan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana perintah Allah dalam surat An Nisa ayat 59, “…Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya),…” (QS An-Nisaa: 59).

Pengelolaan usaha memiliki banyak aspek yang perlu diperhatikan. Misalnya manajemen pemasaran, manajemen keuangan, manajemen SDM dan sebagainya. Keuangan merupakan bagian penting dalam bisnis. Manajemen keuangan yang buruk bisa membuat kita sulit mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi usaha kita. Ada pedagang yang tidak tahu keadaan sebenarnya dari kas usahanya, berapa keuntungan usahanya, dan ke mana saja alokasinya. Belum lagi ketika uang pribadi dan bisnis tercampur. Melalui manajemen keuangan, dapat diketahui keadaan keuangan sebenarnya dari bisnis tersebut, sehingga pedagang dapat merencanakan strategi-strategi yang tepat dan sesuai untuk pengembangan usaha.

Manajemen keuangan dalam berdagang juga harus menerapkan prinsip keuangan syariah. Manajemen keuangan syariah adalah aktivitas termasuk kegiatan planning, analisis dan pengendalian terhadap kegiatan keuangan yang berhubungan dengan cara memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai dengan tujuan dan sasaran, untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan kesesuaiannya pada prinsip syariah. Dengan kata lain, manajemen keuangan syariah merupakan suatu cara atau proses perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, dan pengontrolan dana, untuk mencapai tujuan sesuai dengan hukum Islam (prinsip syariah).

Prinsip-prinsip manajemen keuangan syariah yang diajarkan Al-Quran adalah sebagai berikut:

  1. setiap perdagangan harus didasari sikap saling ridha atau atas dasar suka sama suka di antara dua pihak sehingga para pihak tidak merasa dirugikan atau dizalimi.
  2. penegakan prinsip keadilan (justice), baik dalam takaran, timbangan, ukuran mata uang (kurs), maupun pembagian keuntungan.
  3. kasih sayang, tolong-menolong, dan persaudaraan universal.
  4. dalam kegiatan perdagangan tidak melakukan investasi pada usaha yang diharamkan, seperti usaha yang merusak mental dan moral, misalnya narkoba dan pornografi. Demikian pula, komoditas perdagangan haruslah produk yang halal dan baik.
  5. prinsip larangan riba, serta perdagangan harus terhindar dari praktik gharar, tadlis, dan maysir.
  6. perdagangan tidak boleh melalaikan diri dari beribadah (shalat dan zakat) dan mengingat Allah.

Nabi Muhammad SAW, adalah seorang nabi dan rasul, dan juga seorang pedagang yang sukses di masanya. Aktivitas bisnis Nabi Muhammad SAW sebagai saudagar sukses berlangsung hampir sepanjang hidupnya. Dalam catatan Fazlur Rahman dalam bukunya “Muhammad as a Trader”, disebutkan bahwa, Muhammad SAW sebagai saudagar telah dikenal luas namanya di pelbagai negara, seperti Yaman, Suriah, Yordania, Bahrain, dan Irak. Kesuksesan beliau sebagai saudagar ditopang oleh etika yang dewasa, ini disebut sebagai faktor kunci kesuksesan; yaitu al-shiddiq (benar, jujur), al-amanah (terpercaya, kredibel), al-tabligh (komunikatif, transparan), dan fathanah (cerdas, profesional). 

Sebagai suri tauladan, umat Islam sudah semestinya mengikuti langkah beliau, bagaimana beliau berdagang, bagaimana cara beliau memasarkan produknya, dan bagaimana manajemen keuangan beliau. Hal ini penting untuk diingat kembali di tengah persaingan usaha yang pesat dengan menggunakan teknologi informasi. Walaupun di masa Nabi, belum ada teknologi informasi dan perdagangan online, namun nilai-nilai yang Nabi lakukan dalam berdagang dapat kita implementasikan ke dalam model perdagangan secara online.

Dalam berdagang Nabi Muhammad SAW selalu menjelaskan dengan baik kepada semua pembelinya, akan kelebihan dan kekurangan produk yang beliau jual. Dalam mempromosikan barang beliau tidak pernah melebih-lebihkan produk, dengan maksud untuk memikat konsumen, dan tidak melakukan sumpah yang berlebihan dalam menjual dagangannya. Beliau mengajarkan untuk tidak bersaing dalam penentuan harga, namun bersaing dalam kualitas barang dagangan. Secara umum, prinsip dagang yang dilakukan Nabi Muhammad SAW mencakup upaya saling menjaga dan melindungi hak para pihak, saling menjaga kehalalan, dan tidak sewenang-wenang.

Allah telah memberikan hak bagi penjual dan pembeli masing-masing. Diantara hak yang harus dipenuhi adalah tidak merasa terpaksa atau dipaksa dalam jual beli (dilakukan atas dasar suka sama suka). Sebagaimana firman Allah dalam surat An nisa ayat 29, “…Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu…” ( QS An-Nisa’: 29).

Hak pembeli dan kewajiban penjual juga diatur di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pembeli atau konsumen berhak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/ atau jasa, berhak memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar, kondisi serta jaminan yang dijanjikan, berhak mendapat informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa, dan berhak mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

Sedangkan kewajiban penjual atau pelaku usaha, yaitu, beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya, berkewajiban untuk memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan. Penjual juga berkewajiban untuk memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, dan berkewajiban untuk memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Langkah solutif

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada sesama pedagang agar waspada dan berhati-hati saat masuk pasar. Dalam konteks ini, sebagaimana disebutkan al-Suyuthi dalam bukunya al-Jami’ al-Shagir, Rasululah bersabda bahwa “seburuk buruk tempat adalah pasar” (HR Al-Hakim).

Untuk menghindarkan keburukan dari tabiat pasar, beliau membuat aturan-aturan, dan etika yang harus ditegakkan oleh pedagang. Diantara bentuk etika yang diajarkan beliau adalah adil dalam takaran dan timbangan, jujur dan transparan dalam bertransaksi, tidak melakukan jual-beli najasy (menjual barang dengan mempergunakan jasa orang lain untuk mempengaruhi dan memuji barang dagangannya dengan pura-pura menawar agar orang lain terpancing membelinya), tidak melakukan talaqqi ar-rukban (menjemput barang dagangan ke pemiliknya di luar kota dan meletakkan harga yang tidak sesuai dengan harga pasar untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar), tidak menjual kepada orang lain barang yang belum sempurna dimiliki, tidak melakukan ihtikar (penimbunan barang kebutuhan masyarakat lalu menjualnya dengan harga tinggi), tidak melakukan transaksi yang bersifat ribawi, serta menghindarkan aktivitas yang bersifat maya (gharar).

Manusia memiliki kelemahan yaitu keserakahan, dan tidak pernah puas dengan harta. Akibat dari sifat lemah tersebut, seringkali kita temukan orang yang bekerja demi tujuan mengeruk harta dengan menghalalkan segala cara, dan tidak jarang pula perilaku tersebut menimbulkan dampak pada semua sektor kehidupan. Dalam transaksi bisnis, Islam berorientasi pada keadilan dan pemerintahan, oleh sebab itu e-commerce sebagai pasar digital harus diawasi. 

Pengawasan perlu dilakukan dalam rangka perlindungan konsumen, dan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak konsumen untuk mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang memenuhi, aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (K3L) dan sesuai dengan yang diperjanjikan. Pengawasan juga untuk mendorong pelaku usaha untuk berusaha dengan jujur, dan bertanggung jawab, sehingga menciptakan persaingan yang sehat antara pelaku usaha.

E-commerce memudahkan pembeli dan penjual dalam bertransaksi jual beli. Kemudahan yang ditawarkan juga diiringi dengan tindak kejahatan yang selalu mengancam. Hukum Indonesia telah menyiapkan undang–undang untuk menjerat pelaku kejahatan penipuan dalam jual beli online. Undang–undang yang membahasnya adalah Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 378 KUHP mengatur penipuan, penjelasan mengenai unsur-unsur dalam Pasal 378 KUHP, dan Pasal 28 ayat (1) UU ITE mengatur mengenai berita bohong yang menyebabkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik.

Kesimpulan

Pedagang yang berjualan di pasar digital atau e-commerce harus meniru cara Nabi berdagang agar kecurangan yang merugikan konsumen atau pembeli tidak terjadi, yaitu dengan: 

    1. Pemenuhan hak dan kewajiban masing-masing pihak penjual dan pembeli.
    2. Manajemen keuangan para pedagang harus sesuai dengan prinsip syariah dan menjauhi riba, sehingga tidak menimbulkan kerugian bagi pedagang itu sendiri. 
    3. Menerapkan nilai-nilai muamalah dalam ajaran Islam menjadi prinsip berdagang dan kunci sukses berdagang melalui e-commerce

Perlu memaksimalkan implementasi dari segala peraturan perundang-undangan yang memayungi e-commerce, terkhusus dalam pengawasan para pedagang di pasar digital serta penguatan peraturan e-commerce dalam perlindungan konsumen.

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Kenapa PBNU/NU Dianggap Pro Rezim atau NU Plat Merah?

3 Maret 2023 - 12:45 WIB

PBNU atau NU terlihat absen dalam sejumlah Isu penting yang berkaitan dengan hajat dan kemaslahatan umat.

Sebira versus Siberia: Catatan Untuk Anies Baswedan

23 Februari 2023 - 14:17 WIB

Menggugat Arogansi Adaro, Perusahaan Tambang Batubara Oligarkis!

13 Februari 2023 - 06:51 WIB

Anies, Agenda Perubahan dan Tembak Mati Koruptor

2 Februari 2023 - 07:00 WIB

Tujuh Tantangan Besar Indonesia 2023: Ketimpangan Sosial dan Kemiskinan

23 Desember 2022 - 22:00 WIB

Tujuh Tantangan Besar Indonesia 2023: Demokrasi Harus Di Selamatkan

21 Desember 2022 - 16:54 WIB

Trending di Opini